Total Tayangan Laman

Sabtu, 22 Januari 2011

MAKALAH PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan hubungan sosial diharapkan dapat memahami pengertian dan proses sosialisasi peserta didik.
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.
Dari hal-hal yang diuraikan di atas maka kami ingin membuat makalah dengan judul “Perkembangan Hubungan Sosial”

Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan perkembangan hubungan sosial ?
Apa saja karakteristik perkembangan sosial remaja ?
Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial ?
Apakah pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku ?
Apa yang dimaksud interaksi serta jenis-jenis interaksi ?
Bagaimana pola interaksi remaja dengan orang tua ?
Apa yang dimaksud perbedaan individual dalam perkembangan sosial ?
Apa upaya pengembangan hubungan sosial remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan ?

Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan hubungan sosial.
Untuk mengetahui karakteristik perkembangan sosial remaja.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial.
Untuk mengetahui pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud interaksi serta jenis-jenis interaksi.
Untuk mengetahui pola interaksi remaja dengan orang tua.
Untuk mengetahui maksud dari perbedaan individual dalam perkembangan sosial
Untuk mengetahui upaya pengembangan hubungan sosial remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial
Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia. Bersosisalisasi merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial, bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok masyarakat luas.
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks.  Jadi, pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Belajar hidup bersosialisasi memerlukan sekurangnya tiga proses berikut.
Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima dalam kelompok tersebut.
Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
Agar dapat diterima dalam kelompok selain dapat menyesuaikan perilaku dengan standar kelompok, seseorang juga dituntut  untuk memainkan peran sosial dalam bentuk pola-pola kebiasaan yang telah disetujui dan ditentukan oleh para anggota kelompok.
Perkembangan sikap sosial.
Untuk dapat bergaul dalam masyarakat, seseorang juga harus menyukai orang atau terlibat dalam aktivitas sosial tertentu. Jika anak dapat melakukannya dengan baik, maka ia dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompok.

 Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
Karakteristik perkembangan sosial remaja sebagai berikut:
Berkembangnya Kesadaran akan Kesunyian dan Dorongan akan Pergaulan
Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan mencari hubungan denga orang lain atau berusaha mencari pergaulan.
Langeveld (Simanjuntak dan Pasaribu, 1984 : 152) berpendapat bahwa kemiskinan akan hubungan atau perasaan kesunyian remaja disertai kesadaran sosial psikologis yang menimbulkan dorongan yang kuat akan pentingnya pergaulan untuk menemukan suatu bentuk sendiri.
Adanya Upaya Memilih Nilai-nilai Sosial.
       Terdapat dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika berhadapan  dengan nilai-nilai sosial tertentu yaitu menyesuaika diri dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala akibatnya, namun ada kemungkinan seseorang tidak akan menuntut norma-norma sosial yang demikian mutlak, tetapi tidak pula menolak seluruhnya.
Meningkatkan Ketertarikan pada Lawan Jenis.
       Dalam konteks ini masa remaja seringkali disebut juga sebagai masa biseksual (Sunarto: 1998) mengistilahkan bahwa dunia remaja telah menjadi dunia erotis artinya keinginan membangun hubungan sosial dengan jenis kelamin lain dipandang sebagai sudut yang berpangkal pada kesadaran akan kesunyian.
Mulai Cenderung Memilih Karier Tertentu.
       Kuhlen mengatakan bahwa ketika sudah memasuki masa remaja akhir, mulai  tampak kecendurangan untuk memilih karier tertentu meskipun dalam pemilihan karier tersebut masih mengalami kesulitan (Simanjuntak dan Pasaribu, 1984)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu:
Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga. Jadi, pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosialisai, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, juga kematangan berbahasa.  Kematangan fisik juga diperlukan sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, namun akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, “ia anak siapa”. Dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Etika pergaulan dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kapasitas Mental: Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berrbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Pada perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu akan terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritik serta hasil pergaulannya dengan orang lain yang sangat mungkin dapat merubah tingkah lakunya.
Pemikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Misalnya, tata cara, adat istiadat, yang berlaku di keluarga sering terasa terjadi pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya.
Selain itu, pengaruh egosentris masih sering terlibat dalam pikiran remaja:
Cita-cita dan idealisme yang terlalu baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat lebih lanjut dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin tidak berhasil menyelesaikan persoalan.
Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Pandangan dan penilaian diri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.

Pengerian Interaksi dan Jenis-Jenis Interaksi Sosial
Salah satu pakar teori interaksi Thibaut dan Kelley (1976) mendefinisikan interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih orang bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain. Chaplin (1979) juga mendefinisikan bahwa interaksi merupakan hubungan sosial antara beberapa individu yang mana individuindividu itu saling memengaruhi satu sama lain secara serempak.
Homas (Shaw, 1985:71) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas atau sentimen yang dilakukan seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran (reward) atau hukuman (punishment) dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentimen oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Sedangkan Shaw (1976:447) mendefinisikan bahwa interaksi  adalah suatu pertukaran antar pribadi yang masing-masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Jadi interaksi adalah hubungan timbal-balik antara dua orang atau lebih dan masingmasing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.
Shaw (1976 :10) membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu:
Interaksi Verbal
Terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat artikulasi. Prosesnya terjadi dalam bentuk saling tukar percakapan satu sama lain.
Interaksi Fisik
Terjadi ketika dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh, seperti ekspresi wajah, posisi tubuh, gerak-gerik tubuh, dan kontak mata.
Interaksi Emosional
Terjadi ketika individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan. Misalnya, mengeluarkan air mata sebagai tanda sedih, haru, atau bahkan terlalu bahagia.
Nichole(1984 : 27-28) membedakan jenis interaksi berdasarkan banyaknya individu yang terlibat dalam proses tersebut serta pola interaksi yang terjadi. Ada dua jenis interaksi yaitu:
Interaksi dyadic
Terjadi manakala hanya ada dua orang yang terlibat di dalamnya atau lebih dari dua orang tetapi arah interaksinya hanya terjadi dua arah. Contoh : interaksi antara percakapan dua orang lewat telepon, interaksi antara guru murid dalam kelas jika guru menggunakan metode ceramah atau tanya jawab satu arah tanpa menciptakan dialog antar murid.
Interaksi Tryadic
Terjadi manakala individu yang terlibat di dalamnya lebih dari dua orang dan pola interaksi menyebar kesemua individu yang terlibat. Misal, Interaksi antara ayah, ibu, dan anak. Interaksinya terjadi pada mereka semua.

Pola Interaksi Remaja dengan Orang Tua
Interaksi remaja dengan orang tua memiliki keunikan tersendiri, sesuai dengan tahap perkembangannya. Jersild dan Brook (1998) mengatakan bahwa “interaksi antara remaja dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga tindakan (three-act-drama)”. Drama tindakan pertama (the first act drama) menyatakan bahwa interaksi antar remaja dengan orang tua berlangsung sesuai dengan interaksi yang berlangsung antara masa anak-anak  dengan orang tua. Mereka masih bergantung dan dipengaruhi dengan orang tua. Tapi, pada masa ini mereka sudah mulai menyadari akan keberadaannya sebagai pribadi yang memiliki kekhasan dari masa-masa sebelumnya.
Drama tindakan kedua (the second act drama) menyatakan bahwa pada masa ini remaja mulai berjuang untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang tua. Sehingga ketika mereka berinteraksi dengan orang tua, mereka mulai meninggalkan kemanjaan dirinya dan belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu, pada masa ini remaja sering mengalami konflik atau selisih pergolakan ketika berinteraksi dengan orang tua. Jersild dan Brook menyebut masa ini dengan “perjuangan untuk emansipasi”.
Dan pada drama tindakan ketiga (the third act drama), pada masa ini remaja berus berinteraksi secara lancar dengan orang-orang dewasa. Meskipun kadang mereka masih sering menemui hambatan yang datang dari orang tua karena sikap orang tua yang belum bisa melepas anak remajanya secara penuh. Sehingga, mereka seringkali menentang gagasan-gagasan dan sikap orang tuanya. Ada dua aspek dalam konteks interaksi antara remaja dengan orang tua yaitu aspek  objektif dan subjektif (Fontana, 1981). Aspek objektif adalah keadaan nyata dari peristiwa yang terjadi ketika interaksi antara remaja dengan orang tua berlangsung. Sedangkan aspek subjektif adalah keadaan nyata yang dipersepsi oleh remaja pada saat interaksi berlangsung.
Fontana juga menambahkan bahwa tidak jarang remaja lebih menggunakan aspek subjektif dalam berinteraksi dengan orang tua. Oleh sebab itu, perlu memperhatikan bagaimana persepsi remaja tentang interaksinya dengan orang lain dan bukan hanya interaksi nyatanya saja (real interaction). Chaplin (1979) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam lingkungan keluarga akan muncul dengan kualitas yang berbeda-beda. Dan kualitas ini mengacu pada derajat relative kebaikan dan keunggulan suatu hal. Suatu interaksi dikatakan berkualitas jika mampu memberikan kebebasan dan kesempatan bagi tiap individu untuk mengembangkan diri dengan segala kemungkinan yang dimilikinya. Dapat disimpulkan, interaksi antara remaja dengan orang tua adalah hubungan timbl balik secara aktif antara keduanya yang terwujud dalam kualitas hubungan yang memungkinkan remaja untuk mengembangkan potensi dirinya.

Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial
Pada dasarnaya bergual dengan sesama manusia (sosialisasi)  dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun kelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu nampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan teori komprehensip tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah yang berlainan satu sama lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, dan alam, serta kehidupan masyarakat menyediakan segala kebutuhan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan , dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.

Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
            Remaja yang dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belummemahami benar tentang norma-norma social yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat.
Lingkungan Keluarga
Orang tua hendaknya mengakui kedewasaan remaja dengan jalan memberikan kebebasan terbimbing untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab sendiri. Iklim kehidupan keluarga yang memberikan kesempatan secara maksimal terhadp pertumbuhan dan perkembangan anak akan dapat membantu anak memiliki kebebasan psikologis untuk mengungkapkan perasaannya.  Dengan cara demikian, remaja akan merasa bahwa dirinya dihargai, diterima, dicintai, dan  dihormati sebagai manusia oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Dalam konteks bimbingan orang tua terhadap remaja, Hoffman (1989) mengemukakan tiga jenis pola asuh orang tua yaitu :
Pola asuh bina kasih (induction)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap setiap keputusan dan perlakuan yang diambil oleh anaknya.
Pola asuh unjuk kuasa (power assertion)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan senantiasa memaksakan kehendaknya untuk dipatuhi oleh anak meskipun anak tidak  dapat menerimanya.
Pola asuh lepas kasih (love withdrawal)
Yaitu pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya dengan cara menarik sementara cinta kasihnya ketika anak tidak menjalankan apa yang dikehendaki orang tuanya, tetapi jika anak sudah mau melaksanakan apa yang dihendaki orang tuanya maka cinta kasihnya itu dikembalikan seperti sediakala. Dalam konteks pengembangan kepribadian remaja, termasuk didalamnya pengembangan hubungan sosial, pola asuh yang disarankan oleh Hoffman (1989) untuk diterpakan adalah pola asuh bina kasih (induction). Artinya, setiap keputusan yang diambil oleh orang tua tentang anak remajanya atau setiap perlakuan yang diberikan orang tua terhadap anak remajanya harus senantiasa disertai dengan penjelasan atau alasan yang rasional. Dengan cara demikian, remaja akan dapat mengembangkan pemikirannya untuk kemudian mengambil keputusan mengikuti atau tidak terhadap keputusan atau perlakuan orang tuanya
Lingkungan Sekolah
Di dalam mengembankan hubungan social remaja, guru juga harus mampu mengembangkan proses pendidikan yang bersifat demokratis, guru harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup menarik minat anak, sebab tidak jarang anak menganggap pelajaran yang diberikan oleh guru kepadanya tidak bermanfaat. Tugas guru tidak hanya semata-mata mengajar tetapi juga mendidik. Artinya, selain menyampaikan pelajaran sebagai upaya mentransfer pengetahuan kepada peserta didik, juga harus membina para peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Dengan demikian, perkembangan hubungan sosial remaja akan dapat berkembang secara maksimal.
Lingkungan Masyarakat
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberika
rangsang kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.
Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat .


DAFTAR PUSTAKA

Kurnia, inggrid dkk. 2007. Perkembangan Belajar Peserta Didik. Tidak diterbitkan.
Sunarto & Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
______. 2010. Perkembangan Hubungan Sosial Remaja. (Online). (http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/makalah-tentang-perkembangan-hubungan.html). Diakses tanggal 5 Oktober 2010.
_______. 2007. Perkembangan Sosial Anak. (Online). (http://h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak/). Diakses tanggal 5 Oktober 2010.
_______. 2010. Perkembangan Hubungan Sosial. (Online). (http://www.g-excess.com/id/makalah-dan-pengertian-hubungan-sosial.html). Diakses tanggal 5 Oktober 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar